Gagalnya Investasi di Aceh Jadi Sorotan, Pemerintah Baru Diminta Belajar dari Pengalaman

15/01/2026by Admin1

DIALEKSIS.COM | Banda AcehGagalnya berbagai investasi besar di Aceh selama beberapa tahun terakhir harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah Aceh yang baru. Direktur Eksekutif Forum Bisnis dan Investasi Aceh (For-Bina), Muhammad Nur, menyoroti rentetan masalah yang membuat banyak proyek strategis di Aceh terhenti, bahkan gagal total.

Muhammad Nur mencatat beberapa contoh kasus, termasuk kegagalan perusahaan asal Dubai yang pada tahun 2022 batal merealisasikan investasi sebesar Rp 7 triliun di sektor pariwisata dan migas. Selain itu, PT Trans Continent pada 2023 gagal melanjutkan proyek pengembangan pusat distribusi dan pembangunan pusat logistik berikat.

“Proyek investasi semen Aceh oleh PT Semen Indonesia Aceh (SIA) juga mengalami kegagalan sejak 2018 karena sengketa lahan yang tak kunjung selesai. Hingga saat ini, proyek tersebut telah menghabiskan biaya sebesar Rp97,5 miliar hanya untuk pembayaran pekerjaan proyek dan operasional,” ujar Muhammad Nur kepada Dialeksis.com, Rabu (15/1/2025).

Sektor energi juga tak luput dari persoalan. Mega proyek PLTA di Gayo Lues oleh PT Kamirzu pada 2019 gagal direalisasikan. Hal serupa terjadi pada proyek PLTA Kluet 1 di Aceh Selatan yang digarap PT Trinusa Energi Indonesia. 

Sementara itu, proyek PLTP Seulawah di Aceh Besar kini diambil alih oleh PT PEMA dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO), namun proses eksplorasi panas bumi belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan.

Masalah juga melanda sektor tambang. Muhammad Nur mengungkapkan bahwa proyek tambang emas PT Emas Mineral Murni (PT EMM) di Nagan Raya yang mencakup area 10.000 hektare menghadapi hambatan hukum dan belum memperoleh keputusan dari pemerintah. Proyek tambang emas PT BMU di Aceh Selatan pun dicabut pada 2023, sementara rencana tambang PT BME di Nagan Raya ditolak sejak awal.

Penolakan warga juga menjadi kendala bagi beberapa proyek lainnya, seperti proyek energi panas bumi PT Sabang Geothermal Energy (SGE) di Sabang dan proyek tambang PT Pegasus di Aceh Tengah yang terhenti pada tahap amdal.

Muhammad Nur menegaskan bahwa kegagalan ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintahan baru untuk memperbaiki tata kelola investasi di Aceh. 

“Pemerintah harus belajar dari pengalaman ini dan memastikan kebijakan investasi yang lebih transparan, akuntabel, serta mampu menyelesaikan kendala di lapangan,” pungkasnya. [red]

Sumber: dialeksis.com

Admin

One comment

  • A WordPress Commenter

    31/07/2026 at 3:14 pm

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FORBINASekilas Tentang Kami
Forbina adalah lembaga penelitian, pengawasan, kajian kebijakan, dan advokasi investasi yang bertujuan mendorong investasi berkeadilan, transparan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh
KANTORLokasi Kantor Kami
Kecamatan Ulee Kareng - Banda Aceh
https://forbina.or.id/wp-content/uploads/2019/04/img-footer-map.png
Lebih DekatSosial Media FORBINA
Dapatkan informasi update tentang kegiatan kami secara cepat dan akurat di sosial media kami
AVANTAGEHeadquarters
Organically grow the holistic world view of disruptive innovation via empowerment.
OUR LOCATIONSWhere to find us?
https://forbina.or.id/wp-content/uploads/2019/04/img-footer-map.png
GET IN TOUCHAvantage Social links
Taking seamless key performance indicators offline to maximise the long tail.

Copyright by FORBINA. All rights reserved. Developed by husnixs.id

Copyright by BoldThemes. All rights reserved.